Senin, 25 Februari 2013

25 Feb 13


Pesan Tetesan Air Mata

Dalam remang di keheningan malam.
Alunan musik, suara jangkrik,
dan cahaya bulan masih tetap menemani.

Duduk terdiam,
Memandangi sang rembulan.
Sendiri, merangkul kedua kaki.
Diselimuti kesejukan angin malam.

Satu demi satu cahaya hitam mendekat.
Mendekat dan terus mendekat.
Tetesan air matapun menetes satu demi satu.
Satu tetesan melawan seribu cahaya hitam.

Sungguh disayangkan,
Tetesan yang kujaga selama bertahun-tahun,
Kini telah keluar demi menolongku.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Seakan-akan tubuh ini dikunci oleh cahaya hitam itu.
Perlaha-lahan semuanya menjadi  gelap.
Gelap, dan terus menggelap.

Alunan musik tetap beralun,
Dan suara jangkrik masih bersemangat menemani,
Tapi cahaya bulan mulai meredup.
Hingga akhirnya suara adzan membangunkanku.

Ketika kubuka mata ini,
Tetesan air mata telah menghilang,
Bersama cahaya hitam itu.
Kicauan burungpun menyapa.
Mengucapkan selamat pagi,
Dan menyampaikan pesan tetesan air mata.

“Tetaplah bersemangat tanpa diriku.
Arungi hidup ini dengan senyuman dan penuh ketegaran.
Karena masa depan yang cerah telah menantimu”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar