Pesan Tetesan Air Mata
Dalam remang
di keheningan malam.
Alunan musik,
suara jangkrik,
dan
cahaya bulan masih tetap menemani.
Duduk
terdiam,
Memandangi
sang rembulan.
Sendiri,
merangkul kedua kaki.
Diselimuti
kesejukan angin malam.
Satu demi
satu cahaya hitam mendekat.
Mendekat dan
terus mendekat.
Tetesan air
matapun menetes satu demi satu.
Satu tetesan
melawan seribu cahaya hitam.
Sungguh disayangkan,
Tetesan yang
kujaga selama bertahun-tahun,
Kini telah
keluar demi menolongku.
Aku tidak
bisa berbuat apa-apa.
Seakan-akan
tubuh ini dikunci oleh cahaya hitam itu.
Perlaha-lahan
semuanya menjadi gelap.
Gelap,
dan terus menggelap.
Alunan musik
tetap beralun,
Dan suara
jangkrik masih bersemangat menemani,
Tapi cahaya
bulan mulai meredup.
Hingga akhirnya
suara adzan membangunkanku.
Ketika kubuka
mata ini,
Tetesan air
mata telah menghilang,
Bersama cahaya
hitam itu.
Kicauan burungpun
menyapa.
Mengucapkan
selamat pagi,
Dan menyampaikan
pesan tetesan air mata.
“Tetaplah bersemangat tanpa diriku.
Arungi hidup ini dengan senyuman dan penuh
ketegaran.
Karena masa depan yang
cerah telah menantimu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar